Rabu, 11 Februari 2009

” Thoghut ”

Segala Puja dan puji hanya milik Alloh Ta’ala. kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kta berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Azza wa Jalla, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melainkan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

“ Sebaik-baik petunjuk ialah Kitabullah (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasulullah yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap KeBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “.

Tema Bahasan: ” Thoghut ”

oleh: Abu Hanifah Muhammad Faishal Al-Bantani al-Jawy

Sesungguhnya perkara paling pertama yang Alloh Azza Wa Jalla fardlukan kepada setiap hambaNya adalah melakukan pengingkaran terhadap Thoghut dan beriman hanya kepada Alloh Ta’ala, sebagaimana firmanNya: ” Barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus ”. (QS. Al-Baqarah: 256). Dan firmanNya: ” Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan); sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah Thoghut itu ”. (QS. An-Nahl: 36). Sesungguhnya siapakah Thoghut itu dan apa peranannya di tengah-tengah manusia pada setiap zaman, sehingga Alloh Ta’ala setiap kali mengutus seorang Rasul selalu membebani tugas untuk menjaga umatnya dari kejahatan Thoghut.

Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berpendapat bahwa Ath-Thoghut memiliki timbangan kata dari Ath-Thughyaan yang berarti melampaui batas yakni zhalim dan membelot. Dan beliau menjelaskan bahwa segala yang disembah selain Alloh –kalau dia tidak merasa benci dengan penyembahan itu – maka dia adalah Thoghut. Orang yang diikuti dalam bermaksiat, orang yang diikuti dengan tidak mencontoh petunjuk nabi dan agama yang benar, baik dalam bentuk menerima beritanya yang jelas bertentangan dengan Kitabulloh atau ditaati perintahnya yang bertolak belakang dengan perintah Alloh, maka ia adalah Thoghut. Oleh sebab itu, orang yang dijadikan rujukan hukum tanpa Kitabulloh adalah Thoghut. (Lihat Kitab Al-Fatawa 28/200). Al-Allamah Al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Rahimahulloh mengelompokkan tokoh-tokoh Thoghut sebagai berikut:

  1. Syaithan

Khalifah Umar bin Khathtab Radhiyallohu’ Anhu mengatakan bahwa thogut adalah syaithan. Maknanya mencakup segala kejahatan yang dilakukan oleh orang jahiliyyah, diantaranya berupa penyembahan kepada berhala, memohon bantuan dan berhukum kepadanya. Syaithan mengajak manusia agar beribadah kepada selain Alloh. Syaithan ada dua macam yaitu Syaithan dari golongan jin dan syaithan dari golongan manusia, sebagaimana firman Alloh: ” Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagin yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) ”. (QS. Al-An’am: 112).

Orang yang mengajak mempertahankan tradisi pemberian tumbal atau sesajen terhadaap suatu perkara tertentu, maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk melakukan ibadah (ketaatan) kepada selain Alloh Ta’ala. Orang yang mengajak meminta berkah kepada orang yang sudah mati, maka dia adalah syaithan manusia karena mengajak orang lain untuk meminta keberkahan kepada selain Alloh Ta’ala.

Orang yang mengajak menegakkan hukum buatan selain Alloh, maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk menyingkirkan hukum-hukum Alloh Ta’ala. Orang yang mengajak menghalangi tegaknya Syari’at Islam (ALLOH), maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk membenci Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diridhoi Alloh Ta’ala. Dan memang demikianlah tabiat syaithan terhadap seluruh manusia, yang selalu ingin menyesatkan manusia dengan penyestan yang sejauh-jauhnya, sebagaimana firman-Nya: ” Syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya ”. (QS. An-Nisaa’: 60).

  1. Penguasa Yang Zhalim

Penguasa zhalim adalah penguasa yang gemar merubah dn menyingkirkan hukum-hukum Alloh, sehingga segala sesuatu yang asalnya haram - karena demi kepentingannya – diberlakukan sebagai sesuatu yang halal dan demikian juga sebaliknya. Al-Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata: ” Orang dikala menghalalkan sesutu yang disepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu yang disepakati kehalalannya atau merubah syari’at yang sudh disepakati, maka dia itu kafir murtad dengan kesepakatan para fuqaha. (Lihat Kitab Al-Majmu Al-Fatawa 3/267).

Penguasa zhalim pada masa sejarah diantaranya Fir’aun, ’ Aad, dan Tsamud. Mereka berbuat sewenag-wenang dan membut banyak kerusakan di muka bumi. Mereka menolak diberlakukan syari’at agama Tauhid (Alloh) yang akan mengatur sendi-sendi kehidupan mereka kemudian diakhiri dengn cemeti azab yang sangat pedih. Adakah penguasa zhalim pada masa sekarang? Mari kita jawab sendiri pertanyaan ini dengan terlebih dahulu mencermati adanya karakter penguasa (kaum) yang menentang syari’at agama Tauhid (Alloh) di masa sejarah tersebut dengan pemerintahan penguasa saat ini.

  1. Orang Yang Memutuskan Hukum Tidak Dengan Hukum Alloh

Kepala Suku, Kepala Adat, atau Kepala Pemerintahan yang memutuskan perkara manusia dengan hukum adat adalah Thoghut, karena dia mengajak manusia agar tidak mengenal hukum Alloh Ta’ala, tetapi manusia diajak hanya tunduk dan percaya terhadap dirinya saja. Hakim yang memutuskan hukum tidak dengan hukum Alloh adalah gembong kezhaliman, karena dia sengaja menyingkirkan syari’at Alloh Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: ” Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang zhalim ”. (QS. Al-Maidah: 45). Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata: ” Siapa yang meninggalkan syari’at yang baku, yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam penutup para nabi dan dia justeru merujuk kepada aturan-aturan yang sudah dihapus, maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk kepada hukum buatan manusia dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam, maka dia kafir dengan ijma’ kaum Muslimin ”. (Lihat Kitab Al-Bidayah 13/119).

Hal ini sebagaimana firman-Nya: ” Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ”. (QS. Al-Maidah: 44). Sesungguhnya setiap hukum selain hukum Alloh adalah jahiliyyah dan setiap orang yang bernaung di dalam hukum selain hukum Alloh berarti dia menghendaki hukum jahiliyyah, sebagaimana firman-Nya: ” Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin? ”. (QS. Al-Maidah: 50).

  1. Orang Yang Mengaku Mengetahui Hal Yang Ghaib

Semua hal yang ghaib hanya ada di tangan Alloh, sebagaimana firman-Nya: ” Dia mengetahui yang ghaib tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang ghaib itu ”. (QS. Al-Jinn: 26). Dan firman-Nya: ” Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Alloh Tabarakta wa Ta’ala ”. (QS. Al-An’am: 59). Oleh karena itu apabila seseorang mengaku dirinya mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah Thoghut karena dia telah menjadikan dirinya setara dengan Keangungan Alloh Ta’ala.

Para Kahin (tukang ramal, tukang sihir, dukun, paranormal, dll). Pada umumnya selalu mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal yang demikian itu termasuk penyelewengan hak Alloh Ta’ala, karena Rasululloh Muhammad ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: ” Barangsiapa yang mendatangi tukang rmal dan mempercayai apa yang dia katakan, berarti dia telah lepas dari agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam ”. (HR. Ahmad).

  1. Orang Yang Ridha Disembah (Diibadati)

Orang atau sekelompok orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Alloh dan

Rasul-Nya dan berharap agar aturan tersebut ketika dilaksanakan dipatuhi oleh semua manusia, maka dia itu adalah Thoghut karena dia dengan bangga mengajak semua manusia untuk tunduk (beribadah) kepadanya dengan mematuhi aturan-aturannya. Al-Allamah Syaikh Abdurrahman ibnu Hasan ibnu Muhammad ibnu Abdul Wahab At-Tamimi Rahimahulloh berkata: ” Setiap orang yang merujuk hukum kepada hukum selain Kitabulloh dan Sunnah Rasul-Nya, maka dia telah merujuk hukum kepada Thoghut, yang mana Alloh Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk mengingkarinya ”. (Lihat Kitab Fathul Majid 369).

Dengan demikian mengambil suatu keputusan hukum adalah ibadah, karena itu tidak selayaknya dialamatkan kepada selain Alloh. Jika seseorang mengambil suatu keputusan hukum dari selain Alloh berarti dia telah beribadah kepada selain Alloh. Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Alloh sebelum dia benar-benar melakukan pengingkaran terhadap Thoghut. Ketika seseorang tidak mau mengingkari Thoghut sementara dia tetap menjalankan shalat, shaum (puasa), zakat, haji dan sebagainya, maka semua amal ibadah yang dia amalkan tersebut menjadi sia-sia karena sama sekali tidak bermanfaat bagi dirinya dan dia bukan termasuk golongan orang-orang yang mendapat berita gembira dari Alloh Tabarokta wa Ta’ala. Alloh Azza wa Jalla berfirman: ” Dan orang-orang yang menjauhi Thoghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Alloh, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku ”. (QS. Az-Zumar: 17).

Wallohu’ Ta’ala A’lam. Sekian. Barakallohu’ Fiik, Semoga tulisan ini bermanfaat. Wa’akhiru Dakwathuna. Subhanakallohumma’ Wabihamdikaa’ Ashadu’alaa ‘illaa Anta Astaqfiruka Wa’athubuhu ‘Ilaika. Nun Wal Qolami Wamaa’ Yasthurun, Walhamdulillahirobbil Alamien. Wallohu’ Ta’ala A’lam bish Showab.

Dan segala puji bagi Alloh Robb semesta alam dan shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam dan keluarganya dan para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Risalah ini diambil dari Buletin Da’wah Al-’Ishoobah Edisi ke-4 diterbitkan oleh: Yayasan Al-’Urwatul Wutsqa Alamat: Jalan. UI-Srenseng Sawah No.30 Jakarta 12640, Bila berminat mendapatkan Buletin tersebut silakan anda Hub. Ust. Jumadi. 081932868887, Yayasan Al-’Urwatul Wutsqa Melayani Konsultasi Agama tentang masalah Aqidah, Fiqih, Akhlak, dll Hub. 021-99456555 (Al-Ustadz. Abu Wafa’, dkk)

Salam Dakwah Tauhid dan Jihad, Bumi Alloh

Saudaramu Ikhwah fillah,

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy bin Shalih Abu Ramadhan, dkk

(seorang hamba yang mengharap keridhoan Raab-Nya).

Ucapan Terimakasih kepada:

Abi dan Ummi serta adik Ramadhan, Ust. Abu Faqih Abdul Wahab At-Teghaly Rahimahulloh (Allohuma Fakka Asrohu), Al-Akh Abu Malik Muhammad Lukman as-Sundawy, Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Lc Hafidzhahulloh (Allohuma Fakka Asrohu), Ust. Halawi Makmun, Lc, MA Hafidzhahulloh (Allohuma Fakka Asrohu), Ust. Abu Bakar Ba’asyir (Allohuma Fakka Asrohu) (Ketua Tandzim Anshorud Tauhid Was Sunnah), Ust. Abu Muhammad Jiebril Abdurrahman (Allohuma Fakka Asrohu) (Ketua Majelis Mujahidin Indonesia) , Ust. Abu Musa Ath-Thayyar (Allohuma Fakka Asrohu), Ust. Ahmad Rofi’i, Lc Hafidzhahulloh (Allohuma Fakka Asrohu) (Mudir Ma’had Al-I’tishoom, Karawang dan Mudir Tandzim An-Najat, Jakarta), Ust. Farid bin Ahmad Ukhbah, Lc, MA Hafidzahulloh (Allohuma Fakka Asrohu) (Mudir Yayasan Islamic Center Al-Islam, Bekasi), Ust. Ghana, Lc (Majalah Sabili), Ust. Salimin Dani, Lc, MA (Ketua DDII, Kota Bekasi), Ust. Aslam Muhsin, Lc (Mudir Ma’had Al-Binaa’ Islamic Boarding School, Karawang), Ust. Dr. Yusuf (Mudir Ma’had Al-Marhatush Shalihah, Bekasi), Ust. Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA, Ust. Drs. Hartono bin Ahmad Jaiz, Ust. Habib Rizieq Syihab, Lc (Ketua Forum Pembela Islam) serta para Ulama dan Mujahidin yang kokoh diatas Manhaj Dakwah Tauhid dan Jihad semoga kita Selalu dalam Lindungan Alloh dan Umat Islam yang haus akan kebenaran Islam risalah ini semoga dapat bermanfaat walaupun banyak yang tidak mendukung tapi risalah ini kami persembahkan bagi orang islam yang haus akan kebenaran islam. Do’aku selalu menyertai kalian semua yang selalu mengemban dakwah tauhid dan jihad. Amien Ya Mujibas Sa’ilin.

Info Buku yang patut dipelajari untuk Kaum Muslimin mengenai hukum-hukum Thoghut silakan anda membaca buku-buku berikut:

  • Buku Melawan Penguasa (Menyorot Praktik Bernegara Modern dalam Perpektif Islam), Karya: Al-Allamah Syaikh Abdul Mun’im Halimah Hafidzhahulloh, Terbitan: Jazera
  • Buku Murtad Karena Hukum, Karya: Al-Allamah Syaikh Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz Hafidzhahulloh, Terbitan: Kafayeh
  • Buku Kafir Tanpa Sadar, Karya: Al-Allamah Syaikh Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz Hafidzhahulloh, Terbitan: Media Islamika0
  • Buku Menggentarkan Musuh-Musuh Islam, Karya: Al-Allamah Syaikh Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz Hafidzhahulloh, Terbitan: Senyum Media
  • Buku Tiada Khilafah tanpa Tauhid dan Jihad, Karya: Al-Allamah Syaikh Abdul Mun’im Halimah Hafidzhahulloh, Terbitan: Ar-Rahmah Media
  • Buku Kandungan ” Laa ilaaha illallah ” Versi Ahlussunnah wal Jama’ah, Karya: Al-Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Lc Hafidzhahulloh, Terbitan: Pustaka Atstsuguur

Beberapa Renungan/Tausyiah Bermanfaat: Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallohu’ Anhum Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: ” Demi zat yang jiwaku ditangan-Nya tidaklah slah seorang dari umat ini baik yahudi maupun nashrani mendengar tentangku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku bawa melainkan termasuk dari penghuni Neraka ”. (Kitab Shohih Muslim). Shahabat ’Umar Radhiyallohu’ Anhum berkata: ” kami adalah kaum yang Alloh Muliakan dengan Islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Alloh menghinakan kami ”. (Kitab At-Tobari 13/478). Al-Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata: ” Tegaknya Dien (Agama) ini haruslah dengan Kitab sebagai petunjuk dan Pedang/Senjata sebagai penolong, Kitab menjelaskan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang Alloh. Pedang/Senjata menolong dan membelanya “. Al-Allamah Syaikh Abdurrahman ibnu Abdul Wahab At-Tamimi Rahimahulloh berkata: “ Maka tidaklah seorang itu menjadi muwahid/orang yang bertauhid kecuali dia menafikan/meniadakan syirik dan berlepas darinya dan mengkafirkan pelakunya.

Info Kajian Islam: Hadirilah Kajian Tauhid terbuka untuk umum setiap Ahad Jam.09.30 s/d selesai bersama: Al-Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Lc Hafidzhahulloh bertempat di: Musholah At-Taqwa Jalan. Hasanudin Dalam Terminal Mall Blok-M info Hub. Ust. Jumadi. 081932868887. Hadirilah Kajian membahas Kitab Nawaqidhul Iman Al-Qauliyah wal Fi’liyah (Perbuatan dan Ucapan pembatal keimanan), Karya: Al-Allamah Fadhilatush Syaikh DR. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Abdul Latif Rahimahulloh, bersama: Al-Ustadz Halawi Makmun, Lc, MA Hafidzhahulloh setiap Ahad Pekan 1 (Pertama) setiap Bulan bertempat: Masjid Al-Hikmah, Irigasi Alamat: Perum. BJI. Irigasi Prima Raya No. 1 Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kode Pos.17112 Jam. 09.00 s/d selesai info Hub. DKM. Al-Hikmah. (021) 8806854/ Bpk Syamsuddin. (021) 889548494/081514387470

Info Radio Islam Simaklah Radio pilihan kita FAJRI 91,4 FM Terdepan dalam Dakwah dan Informasi Islam , kunjungilah pula situs Fajri di www.fajrifm.com

Mohon Risalah Ini diperbanyak dan disebarluaskan kepada Umat Islam supaya untuk dipelajari, semoga risalah ini dapat bermanfaat dan jika anda menyebarkannya semoga menjadi ladang amal bagi anda, Syukron.

Risalah ini disebarluaskan oleh: Jama’ah Anshorud Tauhid was Sunnah dengan Komunitas Penegak Syari’at Islam, Bekasi

1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus