Rabu, 11 Februari 2009

" RISALAH Masalah JIHAD "

RISALAH JIHAD

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam. Semoga shalawat tercurahkan kepada Nabi Muhammad, penghulu para mujahidin dan imannya orang-orang yang bertaqwa, beserta keluarga, sahabat, dan semua orang yang membela syariatnya sampai akhir kemudian.

KEWAJIBAN JIHAD BAGI SETIAP MUSLIM

Alloh telah mewajibkan jihad secara tegas kepada setiap muslim. Tidak ada alasan bagi orang Islam untuk meninggalkan kewajiban ini. Islam mendorong umatnya untuk berjihad dan melipatgandakan pahala orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya, apalagi yang mati syahid. Tidak ada yang menandingi dalam besarnya pahala, kecuali orang-orang yang mengikuti jejak mereka di medan jihad. Alloh mengaruniakan mereka berbagai kelebihan ruhiyah dan amaliyah, baik di dunia maupun di akhirat, yang tidak diberikan kepada selain mereka . Alloh menjadikan darah mereka yang suci sebagai harga bagi kemenangan dunia serta lambang kemulian bagi keuntungan dan kejayaan di hari akhirat.

Alloh mengancam orang-orang yang tidak turut dalam jihad dengan ancaman siksa yang sangat pedih. Alloh menghinakan mereka dengan berbagai gelar dan sebutan yang buruk, menganggap mereka pengecut, pemalas, lemah, dan tertinggal di belakang. Alloh menjanjikan untuk mereka kehinaan di dunia. Kehinaan yang tidak dapat di hapuskan kecuali dengan berangkat ke medan jihad. Sedangkan di akhirat, Alloh menyiapkan untuk mereka siksa yang pedih. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari siksa itu meskipun menebusnnya dengan emas sebesar gunung Uhud. Islam menganggap duduk-duduk, tidak mengikuti jihad, dan lari meninggalkan medan perang sebagai salah satu dosa besar, bahkan termasuk salah satu di antara tujuh hal yang membinaskan amal.

Anda tidak akan menemukan satu pun sistem nilai-baik yang kuno maupun yang baru, bersumber dari agama maupun pikiran manusia-yang lebih baik dari pada sistem Islam dalam membahas masalah jihad, militer, pengerahan massa, dimana mengumpulkannya dalam satu shaf (barisan) untuk mempertahankan kebenaran dengan segala kekuatannya.

Sangat banyak ayat Al-Qur'an dan sunah Rasul saw. yang membicarakan seputar urusan yang mulia ini. Dalil-dalil itu menyeru setiap muslim dengan metode dan tutur kata yang fasih kepada jihad, perang, militerisme, memperkuat sarana pertahanan, pertempuran dengan semua jenisnya: darat, laut, dan lain-lain, dalam semua situasi dan kondisi.

Kepada anda saya akan sebutkan beberapa cuplikan seperti diatas semata-mata sebagai contoh, bukan untuk dijadikan batasan. Saya tidak akan memberikan penjelasan maupun komentar terhadap hadits tersebut secara panjang lebar. Meskipun kata-katanya singkat, namun mempunyai pengertian yang padat dan jelas, syarat dengan potensi ruhiyah. Semua ini akan sangat berguna bagi anda, insya Alloh.

BEBERAPA AYAT AL-QUR'AN TENTANG JIHAD

1. "Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

"kutiba" artinya "furidha" (diwajibkan), sebagaimana tersebut dalam firman Alloh pada saat yang sama dan menggunakan susunan kalimat yang sama pula.

2. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan dimuka bumi atau mereka berperang, 'kalau mereka tetap bersama kita, tentu mereka tidak akan mati dan tidak akan dibunuh.' Akibat (dari perkataan dan keyajinan mereka) yang demikian itu, Alloh menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam hati mereka. Alloh menghidupkan dan mematikan. Dan Alloh melihat apa yang kamu kerjakan. Dan sungguh kalau kamu gugur dijalan Alloh atau meninggal, tentulah ampunan Alloh dan rahmat-Nya lebih baik bagimu dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Alloh kamu semua dikumpulkan." (Ali Imran: 156-157)

"Dharabu fil ardhi" artinya: keluar untuk berjihad. "Ghuzzan" artinya: bertempur.

Perhatikan keterkaitan antara ampunan dan rahmat Alloh terhadap kematian di jalan Alloh pada ayat 157. Ampunan dan rahmat itu tidak terdapat pada ayat berikutnya, sebab bukan berkaitan dengan gugur dan mati di jalan Alloh.

Pada ayat tersebut juga terkandung maksud bahwa kepengecutan adalah sifat orang kafir, bukan sifat orang beriman.

3. "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan kepada mereka dan mereka bergembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ." (Ali Imran: 169-170)

Selanjutnya bacalah pula sampai ayat 175.

4. "Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Alloh. Barangsiapa yang berperang dijalan Alloh, lalu gugur dan memperolah kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar." (An-Nisa: 78)

Selengkapnya anda dapat membaca surat ini mulai ayat 71 sampai ayat 78.

Bacalah ayat-ayat tersebut agar anda tahu betapa Alloh memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk selalu waspada, berperang bersama tentara Alloh, berkelompok atau sendiri-sendiri, sesuai dengan tuntutan situasi. Alloh mencela orang-orang yang duduk-duduk dan tidak mau berperang, pengecut, terlambat, atau orang-orang yang hanya memanfaatkan situasi demi mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri. Alloh mengetuk hati nurani orang-orang yang beriman untuk melindungi orang-orang yang lemah dan menolong orang-orang yang tertindas. Alloh merangkai antara pedang dengan shalat dan shiyam, serta menerangkan bahwa perang tidak berbeda dengan keduanya dalam rukun Islam. Alloh meyakinkan orang-orang yang masih ragu dan mendorong mereka untuk terjun ke dalam kancah peperangan dan arena maut dengan lapang dada dan keberanian yang menggelora dalam hati. Alloh menjelaskan kepada mereka bahwa kematian akan terus mengintai mereka. Alloh jelaskan kepada mereka bahwa jika mereka mati dalam keadaan berjihad di jalan-Nya, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan infaq dan pengorbanan mereka.

5. Surat Al-Anfal secara keseluruhannya merupakan amjuran untuk berperang dan perintah untuk tabah menghadapinya. Demikian pula terhadap penjelasan tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan peperangan. Oleh karena itu, orang-orang mukmin generasi awal menjadikan surat Al-Anfal menjadi senandung yang selalu dilantunkan di tengah berkecambuknya peperangan. Cukuplah bagi anda firman Alloh,

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. Dengan begitu, kamu menggetarkan musuh Alloh dan musuh kamu." (Al-Anfal: 60)

Sampai pada firman-Nya,

“Hai nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang kafir, sebab orang-prang kafir itu tidak mengerti." (A;-Anfal: 65)

6. Surat At-Taubah secara keseluruhanya merupakan anjuran perang dan penjelasan mengenai hukum-hukumnya. Cukuplah bagi anda dengan firman yang menjelaskan tentang perang terhadap orang-orang musyrik yang berkhianat. "Perangilah mereka, niscaya Alloh menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu dan Alloh akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakkan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Alloh menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana." (At-Taubah: 14-15)

Firman Alloh tentang perang terhadap orang-orang ahli kitab,

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari kemudian serta tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Alloh dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang yang telah diberi Al-kitab, sampai mereka mau membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (At-Taubah: 29)

Selanjutnya Alloh menyerukan serangan umum pada ayat ayat berikutnya,

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (At-Taubah: 41)

Kemudian Alloh menjelaskan buruknya sikap orang –orang pengecut yang tidak berjihad di jalan Alloh serta tidak mendapatkan kemuliaan berjihad di jalannya untuk selama-lamanya.

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasululloh, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh dan berkata, 'Janganlah kamu berangkat berperang dalam panas terik ini'. Katakanlah, 'Api neraka jahanam lebih panas'. kalau saja mereka mengetahui. Maka hendakah mereka sendiri tertawa dan banyak menangis, sebagai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Maka jika Alloh mengembalikanmu pada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta ijin kepadamu untuk pergi berperang, maka katakanlah, 'kamu tidak boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak berperang pada kala yang pertama karena itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.' (At-Taubah: 81-83)

Kemudian Alloh menjelaskan sikap para mujahid di bawah kepemimpinan Rasululloh saw. Dan penjelasan bahwa ini semua adalah tugas suci dan jalan para sahabatnya, melalui firman-Nya,

"Akan tetapi, Rasululloh saw dan orang-orang mukmin yang berjihad bersama beliau dengan harta dan jiwa mereka kebaikan dan merekalah orang-orang yang beruntung. Alloh menyediakan untuk mereka surga yang dibawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 88-89)

Kemudian "jual beli" secara tuntas, yang tidak mentolerir lagi alasan dari orang-orang yang suka memberi alasan,

"Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 111)

7. Surat qital (peperangan), dan bayangkan bagaimana sebuah surat di dalam Al-Qur'an-seluruhnya-dinamakan surat qital. Sebagaimana mereka berkata bahwa pondasi jiwa ketentaraan adalah dua hal: peraturan dan ketaatan. Alloh swt telah menghimpun pondasi ini dalam dua ayat, tentang "ketaatan" tertuang dalam ayat berikut,

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak diturunkan suatu surat?' Maka jika diturunkan surat-surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit didalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukai). Tetapi jika saja mereka benar (imannya) kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad: 20-21)

Adapun tentang "peraturan", Alloh swt. Berfirman dalam surat Ash-Shaf,

"Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4)

8. surat Al-Fath (kemenangan), yang terdapat padanya kisah peperangan Rasululloh saw. Ayat ini juga menunjukkan salah satu sikap tegar dalam jihad di bawah pohon yang diberkati, pohon di mana bai'at maut (ikrar kematian) diberikan oleh para sahabat. Dengan itulah lahir ketenangan sekaligus kemenangan. Yang demikian itu tersebut dalam ayat berikut,

"Sesungguhnya Alloh telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Alloh Maha perkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Fath: 18-19)

Inilah wahai saudaraku, beberapa hal yang bisa dituturkan dalam kaitan dengan jihad; penjelasan tentang keutamaannya, ajakan kepadanya, dan kabar gembira bagi pelakunya dengan semacam itu, maka renungkanlah, niscaya engkau akan tercengang betapa orang-orang muslim saat ini begitu mengabaikan pahala agung yang dijanjikan Alloh ini.

Berikut nukilan beberapa hadits tentang hal ini:

BEBERAPA HADITS NABI TENTANG JIHAD

1. Dari Abu Hurairah ra, berkata saya mendengar Rasululloh saw bersabda,

"Demi zat yang diriku ada ditangan-Nya. Kalau bukan karena beberapa orang dari kalangan mukmin, yang jelek mentalnya dan tidak ikut berjihad bersamaku lalu aku tidak mendapati cara untuk mendorongnya, niscaya aku tidak ketinggalan dari satu pun peperangan di jalan Alloh. Demi zat yang diriku ada ditangaNya, saya sungguh ingin terbunuh di jalan Alloh kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh dan hidup lagi, kemudian terbunuh dan hidup lagi, kemudian terbunuh." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasululloh saw. Bersabda,

"Demi dzat yang diriku ada ditanga-Nya, tidaklah seseorang terluka di jalan Alloh-Alloh Mahatahu siapa yang pantas terluka di jalan Alloh-kecuali ia datang pada hari kiamat; warna (luka)nya warna merah darah, tetapi baunya aroma misik."

3. Dari Anas ra. Berkata, "Pamanku Anas bin Nadhar tidak hadir di perang Badar, lalu berkata, 'Wahai Rasululloh, saya absent di pertempuran pertama yang memerangi orang-orang musyrik. Sungguh jika Alloh berkenan menyahidkanku tatkala memerangi orang-orang musyrik, niscaya Alloh menyaksikan apa yang aku perbuat." Tatkala perang Uhud terjadi dan kaum muslimin dihantui kekalahan, ia berkata, "Ya Alloh, kamu minta maaf tidak bisa berbuat sebagaimana mereka (sahabat-sahabat yang lain) dan saya lepas diri dari apa yang mereka perbuat (kalangan musyrikin)." Seketika itu majulah ia lalu ditemui oleh Sa'ad bin Mu'adz. Anas berkata, 'Wahai Sa'ad, aku ingin surga dan Tuhannya Nadzar. Aku sungguh mencium baunya di balik gunung Uhud." Sa'ad berkata ( kepada Rasululloh), 'Wahai Rasululloh, saya tidak bisa berbuat sebagaimana yang ia lakukan' Berkata Anas bin Malik, 'Kami dapatkan pada tubuhnya (Anas bin Nadhar) delapan puluh sekian luka bekas pukulan pedang, atau lemparan tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapatkan ia terbunuh dan di cincang oleh orang-orang musyrik. Tidak satu pun orang yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya melalui ujung jarinya.' Berkata Anas, 'Kami melihat, atau mengira, bahwa ayat ini turun berkaitan dengannya, atau orang-orang yang semisalnya (yakni ayat),

"Sebagian dari orang-orang mukmin ada orang-orang yang membuktikan apa-apa yang mereka janjikan kepada Alloh…" (HR. Bukhari)

4. Dari Ummu Haritsah binti Suraqah, ia datang kepada Nabi saw. Dan berkata, "Wahai Nabi Alloh, tidakkah engkau bercerita kepadaku tentang Haritsah (anaknya yang meninggal karena terkena anak panah nyasar sebelum perang Badar)? Jika ia di surga, saya bersabar. Namun jika tidak demikian, saya akan meratapinya dengan tangisanku." Nabi saw. Menjawab, "Wahai Ummu Haritsah, ada banyak taman di surga. Anakmu memperoleh taman Firdaus yang tertinggi." (HR. Bukhari)

Lihatlah saudaraku, bagaimana surga telah membuat seseorang lupa akan rasa sedih dan lara, serta menggantikannya dengan kesabaran.

5. Dari Abdullah bin Abu Aufa ra., sesungguhnya Rasululloh saw. Bersabda,

"Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah kilatan pedang." (HR. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud)

6. Dari Zaid bin Khalid Al-Jahniy ra., sesungguhnya Rasululloh saw . bersabda,

"Barangsiapa menyiapkan kendaraan perang di jalan Alloh berarti ia telah ikut berperang, dan barangsiapa meninggalkan perang tetapi menggantinya dengan kebaikan berarti ia pun telah ikut berperang.: (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

kata-kata "ikut berperang" maksudnya: mendapatkan pahala perang.

7. Dari Abu Hurairah ra. Berkata, bersabda Rasululloh saw,

"Barangsiapa mengkarantina kuda perang untuk jihad di jalan Alloh, maka kenyang dan kotorannya (maksudnya segala upaya untuk mengenyangkannya dan tenaga untuk membersihkan kotorannya, pent) akan diimbangi oleh Alloh pada hari kiamat." (HR. Bukhari)

8. Dari Abu Hurairah ra., ditanyakan, Wahai Rasululloh, amal apa yang menyamai pahala jihad di jalan Alloh?" Beliau menjawab, "Kalian tidak mampu melakukannya." Maka diulangilah pertanyaan itu dua kali atau tiga kali. Setiap pertanyaan itu dijawabnya, "Kalian tidak mampu melakukannya." Kemudian berkata,

"Mujahid di jalan Alloh itu seumpama orang yang berpuasa, yang mengerjakan shalat, dan yang membaca Qur'an, dimana ia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga sang mujahid pulang dari medan pertempuran." (HR. Bukhari, Muslim, Nasa'I, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi)

9. Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra, bersabda Rasululloh saw.,

"Tidak maukah kalian aku beritahu sebaik-baik dan sejelek-jelek orang? Sesungguhnya, sebaik-baik orang adalah seorang yang bekerja di jalan Alloh dengan naik kuda, unta, atau berjalan kaki hingga maut menjemputnya. Adapun sejelek-jelek orang adalah orang-orang yang membaca Kitabullah tanpa mencerapnya sedikitpun." (HR. Nasa'i)

10. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Saya mendengar Rasululloh saw. Bersabda,

"Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Alloh dan mata yang terjaga di jalan Alloh." (HR. Tirmidzi)

11. Dari Abu Umairah ra. Berkata, bersabda Rasululloh saw.,

"Terbunuh di jalan Alloh itu lebih aku sukai daripada aku memiliki (kerabat) orang-orang kota dan orang-orang desa." (HR. Nasa'i)

12. Dari Rasyid bin Sa'ad ra. Dari salah seorang sahabat bahwa seseorang berkata, "Wahai Rasululloh, kenapa orang-orang mukmin mendapat ujian di kuburnya kecuali orang yang mati syahid?" Rasululloh saw. Bersabda,

"Cukuplah kilatan pedang yang melintas di atas kepalanya sebagai ujian." (HR. Nasa'i)

13. Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasululloh saw. Bersabda,

"Seseorang yang syahid itu tidak menyentuh kematian kecuali seperti salah seorang dari kalian terkena gigitan (binatang kecil, pent)." (HR. Tirmidzi, Nasa'I, dan Darami. Tirmidzi berkata bahwa itu hadits hasan gharib)

ini keistimewaan lain dari seorang yang mati syahid.

14. Dari Ibnu Mas'ud ra. Berkata, bersabda Rasululloh saw.,

"Tuhan kita takjub kepada seseorang yang berperang di jalan Alloh lalu pasukannya kalah. Ia pun memahami apa yang telah menimpanya, maka kembalilah ia ke medan perang sehungga darahnya menetes. Alloh swt. Berfirman kepada malaikat, 'Lihatlah hamba-Ku. Ia kembali ke medan karena menginginkan apa (pahala) yang ada pada-Ku dan takut atas apa (murka) yang ada pada-Ku, sampai meneteslah darahnya. Aku bersumpah dihadapan kalian bahwa Aku telah mengampuninya." (HR. Abu Dawud)

15. Dari Abdul Khair bin Tsabit bin Qais bin Syammas, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, "Seorang wanita bernama Ummu Khallad, dalam keadaan bercadar, datang kepada Rasululloh saw. Dan bertanya tentang anaknya yang terbunuh di jalan Alloh. Berkatalah para sahabat kepadanya, 'Engkau datang untuk bertanya tentang anakmu, tetapi engkau menutup mukamu.' Ia menyahut, 'Kalaupun anakku hilang, rasa maluku tidaklah hilang.' Rasululloh saw. Bersabda kepadanya, 'Sungguh, anakmu mendapatkan pahala dua orang yang mati syahid.' Ia bertanya, 'Mengapa?' Rasululloh menjawab, 'karena ia terbunuh oleh Ahli kitab.' (HR. Abu Daud)

Hadits ini menunjukkan keharusan memerangi Ahli Kitab. Dan Alloh swt. Melipatgandakan pahala orang yang berperang melawan mereka. Jihad disyariatkan bukan untuk memerangi orang musyrik saja, tetapi juga setiap orang yang tidak memeluk Islam.

16. Dari Sahl bin Hunaif ra., Rasululloh saw. Bersabda,

"Barangsiapa meminta kepada Alloh syahadah (mati syahid) dengan hati yang tulus, maka Alloh akan menyampaikannya di kedudukan para syuhada', meskipun ia mati di tempat tidurnya." (HR. Abi Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, dan Ibnu Majah)

17. Dari Khuraim bin Fatik berkata, Rasululloh saw. Bersabda,

"Barangsiapa membelanjakan infaqnya di jalan Alloh maka akan dicatat baginya tujuh ratus kali lipat." (HR. At-Tarmidzi dan ia menghasankannya, hadits yang sama juga diriwayatkan oleh An-Nasa'i)

18. Dari Abu Hurairah ra. Berkata, "Salah seorang sahabat Rasul Alloh melewati suatu lembah, yang di dalamnya terdapat oase kecil yang bening sekali airnya. Oase itu sempat menjadikan dia kagum, kemudian berkata, 'Oh, seandainya aku memisahkan diri dari manusia dan bertempat tinggal di tempat ini." Orang tadi memberitahukan hal tersebut kepada Rasululloh saw., beliau pun bersabda,

"Jangan lakukan itu, sesungguhnya maqam salah seorang kamu fisabilillah (berjihad, pent.) itu lebih utama daripada shalat di rumahnya tujuh puluh tahun. Tidakkkah kalian ingin agar Alloh mengampuni kalian dan memasukan kalian kedalam surga? Berperanglah fi sabilillah. Barangsiapa berperang fi sabilillah di atas untanya, wajib baginya surga." (HR. Tirmidzi)

19. Dari Miqdam bin Ma'dikarib berkata, Rasululloh saw. Bersabda,

"Seorang syahid di sisi Alloh mendapatkan enam keistimewaan Alloh mengampuni dosanya sejak awal perjalanan jihadnya, diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, dipelihara dari siksa neraka, diberi rasa aman dari goncangan terbesar (hari kiamat), ditaruh diatas kepalanya sebiah mahkota mutu manikam, disana ia lebih baik daripada dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari surga, dan bisa memberi syafaat kepada tujuh puluh anggota keluarganya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

20. Dari Abu Hurairah ra. Berkata, Rasululloh saw. Bersabda,

"Barangsiapa bertemu Alloh (di hari kiamat nanti) tanpa ada bekas sedikitpun dari jihad maka ia bertemu Alloh sementara dalam dirinya ada keretakan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

21. Dari Anas ra. Berkata, Rasululloh saw. Bersabda,

"Barangsiapa memohon syahadah dengan jujur, maka akan dianugerahkan (syahadah itu)." (HR. Muslim)

22. Dari Utsman bin Affan, Nabi saw. Bersabda,

"Barangsiapa melakukan ribath fu sabilillah (berjaga di medan jihad) satu malam, maka (nilainya) seperti seribu malam dari puasa dan shalatnya." (HR. Ibnu Majah)

23. Dari Abi Darda' ra. Bahwasannya Rasululloh saw. Bersabda,

"Satu kali peperangan di laut itu seperti sepuluh kali peperangan di darat. Dan orang yang bergumul di laut (dalam rangka jihad) adalah seperti orang yang berlumuran darahnya fi sabilillah." (HR. Ibnu Majah)

yang dimaksud bergumul di laut pada hadits ini ialah orang yang diguncang dan diombang-ambingkan kapal (dalam rangka jihad). Ini merupakan isyarat tentang keutamaan perang di laut dan mengkonsentrasikan umat akan wajibnya menjaga batas-batas territorial dan memperkuat angkatan laut. Hal itu bisa juga dianalogikan dengan udara maka Alloh akan melipatgandakan pahala bagi para pejuang di udara.

24. Dari Jabir bin 'Abdillah berkata, "Ketika Abdullah bin Amru bin Hizam terbunuh dalam perang Uhud, Rasululloh bersabda, 'Wahai Jabir, maukah kamu saya beri tahu tentang apa yang difirmankan Alloh kepada ayahmu?' saya (Jabir) menjawab, 'ya.' Rasululloh saw. Bersabda, 'Tidaklah Alloh itu berfirman kepada seseorang kecuali dari balik hijab, sementara Dia berfirman kepada ayah anda dalam keadaan (ayah anda) berjihad. Maka Alloh berfirman, 'Wahai hamba-Ku berharaplah kepadaKu, niscaya akan Aku beri.' Ia (hamba tadi) berkata, 'Wahai Rabb-ku, hidupkanlah aku, kemudian aku terbunuh dijalan-Mu untuk kedua kalinya." Dia berfirman, 'Sesungguhnya telah terlanjur bahwa mereka tidak akan dapat dikembalikan (ke dunia lagi).' Ia (hamba tadi) berkata, 'Wahai Rabbku, beritahukanlah kepada orang-orang setelahku.' Maka Alloh menurunkan ayat berikut, 'Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahwa mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki (Ali Imran: 169)." (HR. Ibnu Majah)

25. Dari Anas, dari ayahnya ra., dari Nabi Muhammad Saw. Bahwa beliau bersabda,

"Aku mengantarkan seorang mujahid fi sabilillah, maka aku persiapkan kuda tunggangannya diwaktu pagi maupun sore, itu lebih baik bagiku daripada dunia seisinya." (HR. Ibnu Majah)

mempersiapkan disini adalah membantu menyiapkan.

26. Dari Abi Hurairah ra. Berkata, Rasululloh bersabda,

"Duta Alloh itu tiga. Pejuang, haji, dan orang yang berumrah." (HR. Muslim)

27. Dari Abu Darda berkata, Rasululloh bersabda,

"Seorang syahid itu bisa memberi syafa'at kepada tujuh puluh anggota keluarganya."

28. Dari Abdullah bin Umar ra. Berkata, Rasululloh saw. Bersabda,

"Jika kalian berjual beli dengan nasi'ah (riba nasi'ah, pent), mengikuti ekor sapi (diperbudak harta benda), sibuk dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad, maka Alloh akan menimpakan kehinaan atas kalian, yang kehinaan itu tidak akan tercabut dari diri kalian kecuali jika kalian kembali kepada agama kalian." (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan dinisbahkan Al-Hakim)

29. Dari Abu Hurairrah ra. Berkata, "Rasululloh bersama para sahabatnya bertolak ke Badar, sehingga mendahului orang-orang musyrik. Setelah itu datanglah orang-orang musyrik. Maka Rasululloh bersabda (kepada tentara kaum muslim), 'Bangkutlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.' Umair bin al-Hammam berkata, 'Apa yang menyebabkan kamu berkata 'bukh… bukh…'?' Umair menjawab, 'Bukan ya Rasululloh, aku hanya ingin menjadi orang yang termasuk di dalamnya.' Rasululloh bersabda, 'kau termasuk didalamnya.' Perawi (Abu Hurairah) berkata, 'Kemudian dia mengeluarkan korma dari tangkainya seraya memakannya, kemudian berkata, 'Seandainya saya hidup dengan memakan korma ini, maka itu adlah kehidupan yang panjang.' Maka ia lemparkan kurma yang ada di sisinya, kemudian berperang, sampai akhirnya terbunuh." (HR. Muslim)

30. Dari Abu Imran berkata, "Kami berada di kota Romawi. Kaum muslimin pun keluar menghadapi mereka dengan jumlah yang sebanding, bahkan lebih banyak. Penduduk Mesir dikomandani oleh Uqbah bin Amir, sementara jamaah (dari Anshar) dipimpin oleh Fudhalah bin Ubaid. Tiba-tiba salah seorang dari tentara kaum muslimin masuk menerobos barisan tentara Romawi, sampai berada ditengah-tengah mereka. Kaum muslimin yang lain berteriak seraya mengatakan, 'Ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam binasaan.' Saat itulah Abu Ayyub Al-Anshari bangkit seraya berkata, 'Wahai sekalian manusia, demikianlah kalian menta'wilkan ayat tadi. Sesungguhnya ayat itu turun kepada kami orang-orang Anshar di saat Alloh memenangkan Al-Islam dan memperbanyak pengikutnya.' Saat itu sebagian dari kami berbisik kepada sebagian yang lain tanpa sepengetahuan Rasul Alloh, 'Sesungguhnya harta-harta kita telah musnah dan Alloh telah memenangkan Islam ini serta memperbanyak pengikutnya. Alangkah seandainya kita urus lagi harta-harta kita dan mengembalikan yang telah musnah.' Maka Alloh menurunkan ayat kepada Nabi-Nya untuk membantah uneg-uneg kami tersebut, 'Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan…' (Al-Baqarah: 195) Maka yang dimaksud kebinasaan adalah mengurus dan memperbaiki kondisi ekonomi, sementara meninggalkan jihad." Demikianlah Abu Ayyub terus-menerus berjihad sampai akhirnya wafat dan dimakamkan di negeri Romawi." (HR. Tirmidzi)

Lihatlah wahai saudaraku, ketika Abu Ayyub mengucapkan hal ini, beliau telah memasuki usia senja, telah melewati masa muda. Namun kendati demikian, ruh, dan keimanannya pantas dijadikan teladan bagi sebuah masa muda yang kuat dengan dukungan Alloh dan kemuliaan Al-Islam.

31. Dari Abu Hurairah ra., dari Rasululloh saw. Bahwa beliau besabda,

"Barangsiapa mati (dalam keadaan) belum pernah berperang dan tidak terbesit dalam benaknya keinginan berperang, maka ia mati dalam keadaan munafik." (HR. Muslim dan Abu Dawud. Hadits-hadits yang semakna dengan hadits ini banyak jumlahnya)

Hadits-hadits tentang hal itu dan yang sejenisnya, dan juga hadits tentang keutamaan perang di laut daripada di darat, perang terhadap Ahli Kitab, demikian pula hadits-hadits tentang rincian hukum perang, sungguh jauh lebih banyak daripada hanya sekedar dituliskan dalam berjilid-jilid buku. Kami tunjukkan kepada anda sebuah kitab, yakni Al 'Ibrah fi ma Warada 'anillahi wa Rasulihi fi Ghazwi wa; Jihad wal Hijrah, oleh As-Sayyid Hasan Shadiq Khan, sebuah buku yang memang khusus membahas masalah ini; juga kitab Masyari' Al-Asywaq ilaa Mashari' Al-Isyaq wa Mutsirul Gharam ila Darisallam. Dan juga di semua kitab hadits pada bab "Al-Jihad", kita bisa melihat lebih banyak lagi.

HUKUM JIHAD MENURUT PARA AHLI FIQIH

Telah kami sebutkan beberapa ayat dan hadits tentang keutamaan jihad. Kini saya ingin nukilkan untuk sebagian dari apa yang dikatakan oleh para ahli fiqih dari ulama mazhab hingga ulama kontemporer, tentang hukum jihad dan kewajiban mempersiapkannya. Semua ini dimaksudkan agar engkau tahu sejauhmana umat Islam telah menyia-nyiakan hukum agamanya tentang jihad yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin di setiap masa. Simaklah yang berikut ini.

1. Penulis buku Majm'ul Anhar fi Syarhi Multaqal Abrar menetepkan hukum-hukum jihad dalam Mazhab Hanafi seraya berkata, "Jihad-dalam pengertian secara bahasa- adalah pengerahan segenap potensi dengan ucapan dan tindakan. Sedangkan menurut syariat, ia berarti memerangi orang kafir dan sebangsanya, dengan memukulnya, merampas hartanya, menghancurkan tempat ibadahnya, dan memusnahkan berhala-berhalanya. Itu dikehendaki sebagai usaha untuk mengokohkan agama dengan memerangi ahlil harb dan ahluzh zhimmah jika mereka membatalkan janji, dan memerangi kaum murtad yang merupakan sekotor-kotor orang kafir, untuk memutuskan setelah menetapkan. disamping itu, juga memerangi orang-orang yang durjana. "Memulai dari kita" adalah fardhu kifayah. Artinya, wajib bagi kita untuk memulai dalam memerangi mereka setelah sampainya dakwah meskipun dalam memerangi mereka setelah sampainya dakwah meskipun mereka tidak memerangi kita. Imam wajib mengirimkan pasukan ke darul harb setiap tahun sekali (atau dua kali) dan masyarakat wajib membantunya. Jika sebagian dari mereka telah menunaikannya, maka sebagian yang lain gugur kewajibannya. Jika dengan sebagian tersebut ternyata belum mencukupi, maka wajib bagi sebagian yang terdekat dan terdekat berikutnya. Jika tidak mungkin mencukupi kecuali dengan seluruh masyarakat, maka ketika itu ia menjadi fardhu 'ain sebagaimana shalat. Adapun tentang hukum fardhunya, Alloh swt. berfirman,. "Maka perangilah orang-orang musyrik." Juga sabda Rasululloh saw., "Jihad itu hukumnya tetap hingga hari kiamat." Karenanya, jika semua meninggalkannya, semua berdosa. Hingga sabdanya, "Maka apabila musuh dapat menaklukkan salah satu negeri Islam, atau sebagian dari wilayahnya, jadilah ia fardu'ain, kecuali untuk wanita dan budak tanpa izin suami dan majikan. Juga perkecualian untuk anak sampai ia diizinkan oleh orang tuanya dan orang berhutang sampai mendapatkan izin dari penghutangnya."

Dalam buku Al-Bahr disebutkan, "Seorang wanita muslimah yang tertawan di timur wajib bagi masyarakatnya yang di barat untuk melepaskannya, selama ia tidak berada di benteng musuh."

2. Berkata pengarang buku Bulghatus Salik Liaqrabil Masalik fi Mazhabil Imam Malik, "Jihad di jalan Alloh demi meninggikan kalimah-Nya setiap tahun adalah fardhu kifayah; jika sebagian sudah menunaikan, maka sebagian yang lain gugur kewajibannya. Ia menjadi fardu 'ain (sebagaiman wajibnya shalat dan puasa) dengan penetapan dari Imam dan serangan musuh di tengah kaum. Ia ditetapkan (wajibnya) untuk kaum tersebut dan kemudian kepada masyarakat yang terdekat jika tidak mampu menghadapi. Pada kondisi ini ditetapkan pula untuk wanita dan budak meskipun tidak diizinkan oleh suami dan majikan, juga ditetapkan atas pemilik hutang meski dihalang oleh penghutangnya. Ia ditetapkan juga karena naszar. Orang tua hanya boleh menghalangi anaknya dalam fardhu kifayah. Pembebasan tawanan muslim dari tangan ahlul harb, jika ia tidak memiliki harta sebagai tebusannya, adalah fardhu kifayah, meskipun-sebagai penebusnya-harus menghabiskan harta seluruh kaum muslimin."

3. Dalam matan Al-Manhaj oleh imam Nawawi Asy-syafi'I disebutkan, "Jihad pada masa Rasululloh saw. Adalah fardu kifayah, dikatakan juga fardhu 'ain. Adapun masa setelahnya, untuk orang-orang kafir, ada dua keadaan:

Pertama, jika mereka berada di negerinya sendiri, jihad hukumnya fardhu kifayah, jika sudah ada dari kaum muslimin yang menunaikan dan mencukupinya, gugurlah kewajiban ini dari yang lain.

Kedua, jika mereka masuk ke negeri kira, maka kewajiban bagi warga Negaranya yang mampu untuk mempertahankannya. Jika kondisi mengharuskan adanya peperangan, wajib bagi yang mampu untuk melakukannya, meskipun mereka kaum fakir miskin, anak, dan penghutang, tanpa meminta izin kepada siapapun.

4. Dalam buku Al-Mughniy karangan Ibnu Qudamah Al-Hambali disebutkan, "Jihad adalah fardhu kifayah; jika sebagaian telah melakukannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Dan ditetapkan keputusan selanjutnya dalam tiga keadaan:

Pertama, jika kedua pasukan telah berhadap-hadapan maka garam bagi orang yang hadir ditempat itu untuk lari. Wajib baginya berperang.

Kedua, jika orang-orang kafir masuk dalam suatu negeri, maka diwajibkan kepada warganya untuk mempertahankan dan memeranginya.

Ketiga, jika imam meminta masyarakat untuk maju berperang, maka wajib bagi mereka untuk memenuhi panggilan ini bersamanya. Jihad dilakukan minimal setahun sekali.

Abu Abdullah, yakni Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Saya tidak mengetahui suatu amal yang lebih utama-setelah ibadah-ibadah wajib-kecuali jihad, dan perang di laut itu lebih utama daripada perang di darat."

Berkata Anas bin Malik ra., "Suatu saat Rasululloh saw. Tertidur lalu bangun dan tertawa. Berkata Ummu Haram, 'Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasululloh?' Rasululloh saw. Menjawab, 'Sekelompok umatku memperlihatkan kepadaku tatkala jihad di jalan Alloh. Mereka menaiki kapal laut sebagaimana raja-raja diatas singgasana.'" (Muttafaq 'alaihi) Di penghujung hadits ini Ummu Haram meminta kepada Nabi saw. Agar mendoakan kepada Alloh supaya dirinya termasuk dalam rombongan itu. Rasululloh saw. Pun mendoakannya. Pada saat pembebasan kota Cyprus, Ummu Haram ikut di armada laut kaum muslimin. Beliau meninggal dan dimakamkan disana. Disana kini ada sebuah mesjid dan makam yang dinisbatkan kepadanya (Ummu Haram ra.).

5. Berkata Ibnu Hazm Asz-Dzahiri dalam Al-Muhalla-nya, "Jihad adalah fardhu bagi kaum muslimin. Jika sudah ada sekelompok orang yang memerangi orang dinegerinya dan melindungi pertahanan kaum muslimin darinya maka gugurlah kewajiban bagi sebagian yang lain. Jika tidak fardhu tentu Alloh saw. Tidak berfirman, "Pergilah berperang, baik dalam keadaan ringan maupun berat dan berperanglah dengan harta dan jiwa kalian." Atau kecuali musuh telah merusak dalam wilayah kaum muslimin maka saat itu setiap orang yang mampu wajib membantu perjuangan, baik diizinkan oleh orang tua maupun tidak. Tentu saja ada perkecualian, jika dengan kepergiannya itu kedua orang tua atau salah satunya menjadi terlantar. Ia tidak boleh meninggalkan orang tuanya dalam keadaan terlantar.

6. Berkata Syaukani dalam buku Sailul Jarar, "Dalil-dalil tentang wajibnya jihad dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul sangatlah banyak jika dituliskan disini. Namun ia tidaklah fardhu kecuali kifayah; jika sudah ada sebagian yang menunaikan maka yang lain telah gugur kewajibannya. Adapun sebelum ada yang menunaikan, ia fardhu 'ain bagi setiap mukallaf. Demikian juga wajib hukumnya bagi orang yang diminta berangkat jihad oleh imam, ia berangkat, dan ia mendapatkan ketetapan hukum wajib dengannya.

Demikianlah, engkau kini mengerti bagaimana bahwa seluruh ahlul 'ilmi; bagi para mujahid maupun muqallid-nya, baik ulama salaf maupun khalafnya, sepakat bahwa jihad adalah fardhu kifayah bagi umat Islam untuk menyebarkan dakwah, dan fardhu 'ain untuk mempertahankan serangan kaum kufar. Umat Islam kini, sebagaimana kita tahu, dalam keadaan terhina di hadapan kaum kufar dan menjadi objek hukum mereka. Tanah air mereka telah diinjak-injak, kehormatan mereka telah dinodai, urusan mereka diatur oleh undang-undang musuh, dan syiar-syiar agama mereka pun terlantar dinegeri mereka sendiri. Keadaan serupa ini masih ditambah dengan lemahnya kemampuan mereka menyebarkan dakwahnya. Dengan adanya kenyataan ini, maka wajiblah bagi setiap muslim (dengan wajib 'ain) untuk mempersiapkan diri dan mengkokohkan niat dalam rangka menghadapi jihad sampai datangnya kesempatan untuk itu, kemudian Alloh akan menentukan keputusan-Nya untuk kita.

Sebagai pelengkap bagi pembahasan ini barangkali tidak ada buruknya saya sampaikan bahwa kaum muslimin di setiap masa-sebelum masa sekarang, yang penuh kegelapan dan telah padam bara jihad umatnya-tidak pernah meninggalkan jihad; dari para ulama, ahli tasawuf, hingga para pekerjanya. Mereka semua dalam kesiapan penuh untuk berjihad.

Lihatlah Abdullah bin Mubarak, seorang faqih yang zuhud, dia telah mempersembahkan sebagian besar waktunya untuk jihad. Demikian halnya dengan Abdullah Wahid bin Zaid, yang ahli tasawuf dan zuhud. Ada lagi Syaqiq Al-Balkha. Guru besar tasawuf itu berangkat bersama-sama muridnya untuk berjihad. Simak pula sejarah hidup Al Buadrul 'Aini, pensyarah Shahih Bukhari yang faqih dan ahli hadits; isa jihad setahun, belajar setahun, dan berhaji setahun. Demikian juga dengan Al-Qadhi Asad bin Furat Al-Maliki, ia adalah panglima armada angkatan laut pada masanya. Juga Imam Syafii, sangat dikenal dengan kemampuannya "melempar" sepuluh kali tanpa melesat sekalipun".

Demikianlah orang-orang salaf kita, lalu di manakah posisi kita di hadapan sejarah yang agung ini?

UNTUK APA MUSLIMIN BERPERANG?

Pernah datang suatu masa di mana manusia mencela Islam karena wajibnya jihad dan pembenarannya atas perang, sampai terwujudnya apa yang termaktub dalam Al-Qur'an,

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qir'an itu adlah benar. (Fuslihat: 53)

Maka kini mereka mengakui bahwa "mempersiapkan diri untuk perang adalah yang paling menjamin bagi terwujudnya perdamaian". Alloh swt. mewajibkan kepada kaum muslimin bukan sebagai alat pemusnah orang kafir atau sarana bagi kepentingan pribadi, tetapi sebagai perlindungan bagi dakwah dan jaminan bagi perdamaian, selain sebagai media untuk menunaikan misi (risalah) agung yang dipikulkan di pundak kaum muslimin; misi hidayah bagi manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilam. Islam, sebagaimana ia mewajibkan perang, ia juga sangat concern kepada perdamaian. Alloh swt. berfirman,

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakAlloh kepada Alloh.: (Al-Anfal: 61)

Seorang muslim, tatkala ia keluar untuk berjihad, di benaknya ada satu pikiran; berjihad agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi. Agamanya pula melarang ia mencampuri niat yang suci ini dengan maksud-maksud lain; demi pangkat, demi ketenaran, demi harta, demi meraup ghanimah, atau demi memenangkan peperangan tanpa peduli kebenaran. Semua itu haram baginya. Yang halal hanyalah satu urusan; mempersembahkan darah dan nyawanya sebagai tebusan bagi aqidahnya dan demi menegakkan hidayah bagi seluruh umat manusia.

Dari Al Harits bin Muslim bin Al-Harits dari ayahnya berkata, "Rasululloh mengutus kami dalam sebuah pasukan, ketika sampai ditempat penyerbuan, saya pacu kuda tunggangan, sehingga saya bisa mendahului teman-teman saya yang lain. Tiba-tiba saya bertemu dengan penduduk kampung dalam keadaan menangis memelas, saya katakan kepada mereka, 'ucapkan la ilaha ilAlloh, niscaya kalian akan dilindungi.' Kemudian mereka mengucapkannya. Teman-teman banyak yang menyesalkan apa yang telah saya lakukan seraya berkata, 'kau telah menghalangi kami untuk mendapat ghanimah.' Ketika kami datang kepada Rasululloh saw, mereka menceritakan kepada beliau apa yang telah saya perbuat. Rasululloh kemudian memanggil saya dan menganggap baik apa yang telah saya lakukan, kemudian beliau bersabda, 'Ingatlah, sesungguhnya Alloh telah mencatat bagimu pahala setiap orang sekian…dan sekian.' Beliau juga bersabda, 'Sedangkan aku, maka akan kutulis untukmu wasiat setelahku.' Maka beliau lakukan dan beliau tanda tangani serta menyerahkan wasiat itu kepadaku." (HR. Abu Dawud)

Dari Syadad bin Al-Hadi ra. bahwasannya ada seorang laki-laki dari suku Badui dan datang beriman kepada Nabi saw. Kemudian dia berkata, "Aku akan hijrah bersamamu" Rasululloh kemudian memberitahukan hal ini kepada sebagian sahabatnya. Dan adalah suatu ketika, selesai perang kaum muslimin mendapat ghanimah, disana terdapat Rasululloh saw. Maka ia pun (orang tadi) mendapat bagian (dari ghanimah itu). Ia bertanya, "Apa ini?" Rasululloh menjawab, "ini bagianmu" ia berkata, bukan karena ini aku mengikutimu, aku mengikutimu gar aku terkena anak panah ke sini (ia mengisyaratkan ke arah lehernya), maka aku mati dan masuk syurga." Rasululloh bersabda, "Jika kamu jujur kepada Alloh (dalam hal ini) maka Alloh akan mengabulkannya." Mereka istirahat sejenak, kemudian menuju sebuah peperangan menghadapi musuh. Maka orang tadi dibawa kehadapan Rasululloh saw. Dalam keadaan terkena anak panah persis dibagian leher seperti yang ia isyaratkan sebelumnya. Rasululloh bertanya, "Apakah ini orang tadi?" Mereka (para sahabat) menjawab, "Ya" Rasululloh bersama, "ia telah jujur kepada Alloh, maka Alloh mengabulkannya." Kemudian ia dikafani dengan jubah Rasululloh saw. kemudian Rasululah, kemudian Rasululloh menshalatinya. Dan diantara do'a yang ada dalam shalat beliau. "Ya Alloh ini adalah hamba-Mu, keluar dalam rangka berhijrah di jalan-Mu, maka dia terbunuh dalam keadaan syahid dan aku adalah saksi atas hal itu." (HR. An-Nasa'i)

Dari Abu Hurairah bahwa seseorang bertanya, "Wahai Rasul Alloh ada orang yang menginginkan jihad fi sabilillah, sementara dia menghendaki perhiasan di dunia?" Rasululloh menjawab, "Ia tidak mendapatkan pahala apa-apa." Pertanyaan itu diulang sampai tiga kali dan setiap kali selalu dijawab oleh Rasululloh, "Ia tidak mendapatkan pahala apa-apa." (HR. Abu Dawud)

Dari Abu Musa berkata, Rasululloh ditanya tentang orang yang berperang karena ingin disebut pemberi, orang yang berperang dalam rangka membela fanatisme dan orang yang berperang karena 'riya', manakah di antara mereka itu yang fi sabilillah? Rasululloh menjawab, "Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh itu tinggi, maka dia fii sabilillah. (HR. Imam yang lima)

Jika anda membaca sejarah dan perilaku para sahabat di berbagai negeri sampai merkea bisa menaklukannya, niscaya anda akan tahu puncak kesucian mereka dari berbagai macam ambisi, hawa nafsu, dan poros pergerakan mereka yang hanya bertumpu pada satu tujuan asas, yakni membimbing makhluk kepada Al-Haq, sampai kalimat Alloh tegak. Anda pun akan bisa tahu betapa salahnya tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada mereka, bahwa mereka berjihad tidak lain hanyalah menginginkan dominasi atas bangsa-bangsa, menebarkan feodalisme dan ambisi untuk memperoleh keuntungan financial.

KASIH SAYANG DALAM JIHAD ISLAM

Jika jihad dalam Islam memiliki semulia-mulia tujuan, maka sarananya pun adalah seutama-utama sarana.

Alloh swt. mengharamkan permusuhan. Alloh swt. berfirman, "Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Al-Maidah: 87)

Alloh swt. memerintahkan bersikap adil, meskipun kepada musuh. Firman-Nya,

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu dekat kepada taqwa." (Al-Maidah: 8)

Dan Alloh membimbing kaum muslimin menuju kasih sayang yang paripurna. Mereka, ketika berperang tidak melampaui batas, tidak bertindak aniaya, tidak menyiksa tubuh musuh, tidak mencuri, tidak merampok harta, tidak melukai kehormatan, dan tidak membuat derita. Di kala perang, mereka adalah sebaik-baik pasukan perang, dan di kala damai, mereka adalah sebaik-baik pelaku perdamaian.

Dari Buraidah ra. Berkata, "Rasululloh saw. Jika memerintahkan panglima pasukan perang, ia berwasiat kepadanya secara khusus tentang taqwa kepada Alloh, dan kepada orang-orang yang bersamanya tentang kebaikan, kemudian berkata, 'Berperanglah dengan nama Alloh dijalan Alloh, perangilah orang yang kafir kepada Alloh, perangilah jangan melampaui batas, jangan berkhianat, jangan menyiksa, dan jangan membunuh anak-anak.'" (HR.Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, bersabda Rasululloh saw.,

"Jika salah seorang dari kalian berperang jauhilah wajah. (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Ibnu Mas'ud ra. Berkata, bersabda Rasululloh saw., "Pembunuhan yang paling ringan adalah yang dilakukan oleh ahlul iman." (HR Abu Daud)

Dari Abdullah bin Yazid Al-Anshari ra. Berkata, "Rasululloh saw. melarang umatnya merampas dan menyiksa." (HR. Bukhari)

Demikian juga Rasululloh saw. melarang pembunuhan-dalam perang-terhadap wanita, anak-anak, orang-orang tua, menyiksa orang-orang yang terluka, serta menfitnah para rahib dan orang-orang yang mengasingkan diri dari medan peperangan.

Bagaimana mungkin kita bandingkan jiwa kasih sayang Islam ini dengan jiwa kejam para aggressor yang jahat, yang senantiasa menebarkan ketakutan? Dimana kedudukan undang-undang mereka jika dihadapkan dengan undang-undang ilahi yang integral ini?

Ya Alloh. Pandaikan kaum muslimin akan agamanya dan selamatkan dunia dari kegelapan ini untuk menuju cahaya Islam.

YANG TERMASUK JIHAD

Telah sering kita dengar dari kalangan muslimin bahwa memerangi musuh adalah 'jihad kecil'. Adapun 'jihad besar' adalah memerangi hawa bafsu. Banyak yang berdalil dengan sebuah riwayat, 'kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar." Para sahabat bertanya, "Apakah jihad besar itu?" Rasululloh saw. menjawab, 'Jihad terhadap hati atau jihad melawan hawa nafsu."

Dengan hadits ini, sebagian orang bermaksud memalingkan orang lain dari memahami pentingnya jihad, persiapan untuknya tekad untuk menegakkannya, dan menyiapkan berbagai sarannya. Adapun riwayat hadits diatas sebenarnya bukanlah hadits shahih. Berkata Amirul Mukminin dari hadits Al-Hafidz ibnu Hajar dalam Tasdidul Qaus, "Hadits itu memang sangat masyhur, Namun sebenarnya ia adalah ucapan Ibrahim bin 'Ablah."

Berkata Al-Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya'Ulumuddin, "Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad dha'if dari Jabir. Dan diriwayatkan oleh Khatib dalam tarikhnya dari Jabir, 'Jika saja hadits ini shahih, maka sama sekali tidak benar jika dipahami sebagai memalingkan orang dari jihad dan persiapan bagi penyelamatan negeri kaum muslimin. Namun artinya adalah kewajiban bagi seseorang untuk memerangi dirinya sehingga bersihlah seluruh amalnya hanya karena Alloh. Maka yang demikian itu, ketahuilah.'"

Ada beberapa hal yang termasuk jihad, yakin amar ma'ruf nahi munkar. Telah disebutkan dalam sebuah hadits, "Seagung-agung jihad adalah kata-kata hak yang diucapkan di hadapan penguasa yang jahat."

Namun semua itu tidak akan menjadikan pelakunya memperoleh syahid kubra (syahid besar) dan mendapat pahala mujahidin, sebagaimana jika ia berperang atau diperangi di jalan Alloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar